Diantara ketiga anakku, memang romi yang special. Namanya aku pilihkan dengan segenap doa dan harapan yang kugantungkan untuk dirinya. Dari masa kehamilannya aku harus menyelesaikan kuliahku yg tinggal sepenggal dan berbarengan dengan merenovasi rumah. sehingga dia lahir dalam keadaan prematur dengan berat hanya 1800 gram. Ku hanya sempat memegangnya selama 5 menit dan dia harus dilarikan ke RS umum karena paru-parunya belum berfungsi sempurna. Malam itu fikiranku hanya tertuju padanya, bayiku berjuang sendiri di ruangan nicu terpisah dengan jarak yang lumayan karena kami berada di rumah sakit yg berlainan. Tak kurasa perih di perut karena sesar, tekatku hanya satu besok pagi harus bisa berjalan agar aku diperbolehkan menjenguk romi. Paginya dengan berjalan tertatih kukuatkan diri, sepanjang perjalanan di dalam taksi kupegang perutku yang bergurita agar guncangan gak berdampak terhadap jahitanku. Akhirnya sampai juga ku di ruang nicu, kumasuki saja ruangan kecil yang suram itu. Setelah bertanya di perawat jaga kutemui bauiku tergolek lemah. Slang berkliweran, dihidung, tangan, dan mulut. Duh ya Allah......dan dia masih kritis. Suhu tubuhnya 39, nafasnya tidak teratur, dan lambungnya keracunan ketuban, jadi gak boleh minum ASI dan racun dilambungnya harus dikeluarkan lewat slang yang dipasang di mulutnya. Menetes air mataku.maafkan ibu nak. Lebih nelangsa jika dia menangis, menyusui, mengangkatnya dari ranjang saja gak boleh. Aku hanya bisa mengelus2 tangan dan kakinya saja. 10 hari di nicu serasa kiamat kecil buatku. hampir setiap hari ku saksikan para ibu kehilangan buah hati mereka, dan di dalam para bayi berjuang utk memepertahankan dirinya. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan, semua tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing. Alhamdulilah setelah 4 hari denyut jantung dan paru-paru romi mulai stabil. sehingga dia dipindahkan kepojok ruangan didalam inkubator yang di lengkapi dengan deteksi suhu tubuh bayi.Tapi tetap masih gak boleh ASI dan gak bisa keluar dari inkubator. Hanya tanganku yg boleh masuk ke inkubator, itupun hanya untuk menganti popok. Pingin rasanya aku menciumnya. pernah kucoba berlama-lama membelainya lewat lubang inkubator, ternyata tindakan bodohku malah menurunkan suhu tubuhnya, jadi 35 derajat yang seharusnya 36. Dan perubahan itu gak bisa di tolelir oleh tubuh romi, binirnya biru, telapak kakinya yg mungil langsung dingin. Ya Allah......kumeratap diluar ruanagan. Gak ada yg bisa kulakukan. Tp rupanya Allah masih mengijinkan dia untuk tetap bersamaku, berangsur2 oksigen sdh dicabut, aku sedikit lega,hari ke 7 slang yg menuju ke lambung sdh dicabut. Sekarang dia sdh boleh minum asi, meski dengan bantuan spet, biar lah,aku bersyukur banget bisa memberinya asi meski hanya 5 tetes per 4 jam, gak boleh kurang dan gak boleh lebih, ditambah lagi dia gak boleh tersedak, cegukan apalagi sampai muntah. Ya gak apa2 aku terima. Hari ke 8 romi sdh boleh aku gendong. Dengan amat sangat hati2 kupangku dia dengan bantuan suster. Ya Robb Kepalanya hanya sebesar genggamanku. Tp kebahagian itu hanya sebentar ternyata bilirubinnya terlalu tinggi dan dia harus kembali masuk inkubator dengan mata tertutup dan hanya pakai popok saja tanpa baju. Dia harus disinar. Syukurlah proses itu hanya 2 malam saja. Sehari sebelum kepulangannya kerumah aku di training bagaimana cara menggendong dengan metode kangguru, suatu metode menggendong yang diperuntukkan untuk bayi prematur. Cara kerjanya memang mirip dengan cara kangguru mengendong bayinya. jadi bayi digendong di dada telanjang, di harapkan sibayi menempel dengan kulit sang ibu agar selalu terjaga suhu tubuhnya. setelah bayi nyaman di gendong baru ibu bisa pakai baju. jadi posisi bayi berada didalam baju persisi seperti kangguru. romi juga gak boleh dimandikan sampai berat badannya mencapai 2000kg. harus diberikan sinar matahari pagi, gak boleh cegukkan, apalagi sampai tersedak. akhirnya hari yang kutunggu pun tiba, dengan suka cita kugendong romiku dengan sepenuh jiwa seperti seorang pahlawan yang akan mengabarkan kemenangannya setelah lama berjuang. sampai dirumah ku teliti dengan benar bagian tubuhnya. tangannya yang selalu menekuk membuat hatiku sedikit menciut. sejuta pengandaian seandainya prasangka itu benar. tangisnya yang begitu kecil membuatku extra memasang telinga jika dia kutinggal ke kamar mandi atau beraktifitas lain. tidak kuhiraukan suara sumbang yang seharusnya memberikanku dorongan, hanya kubuat catatan dihati guna melecutku bahwa romi akan menjadi anak yang special. kulihat wajah prihatin dari rozi dan hana atas kondisi romi. tapi justru mereka berdua seolah menjadi panglimaku. menjadi pilar kekuatanku dalam merawat romi. sekarang semua itu berbunga indah, 4 tahun sudah. romi tumbuh menjadi anak yang sehat jasmani dan cerdas, segala ke khawatiranku musnah bagai di telan air bah. jiwa sosialnya juga sangat peka, rasa sayang kepada ke dua kakaknya kadang membuatku terharu. rasa sayang yang di tunjukkan kepadaku bagai hujan yang yang selalu menghapus dahagaku. ah romi semoga kau selalu menjadi pejuang yg tangguh dan tetap bersinar seperti namamu Muhammad Romi Al Ghazi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar