Tegap bayang diantara tertatih langkah kaki
Kobar didada tak terpadamkan akan redupnya mata
Terbungkuk merangkai puing puing memori
Harapan indah entah kemana
Tersapu arogan kekuasaan
Terseok
memanggul harapan yang tak kunjung padam
Terhempas ombak keserakahan
Tersungkur pengakuan diatas kertas
Tersudut karena tak berlencana
Saat nafas akan terputus
Pintanya...
Jaga ibu pertiwi
Kemerdekaan ini ada karena darah kami yang tertumpah.
R.Dini
Mataram,27 Agustus 2014
Rabu, 27 Agustus 2014
Rabu, 20 Agustus 2014
Ibu, itu hakku.
Hari itu Rabu pagi, seharusnya Hana pergi ke Gili nangu acara kunjungan sekolah guna pembelajaran tematik tentang alam yang diadakan sekolahnya. Tapi aku dan sebagian besar orang tua temannya juga tidak memberikan ijin karena pertimbangan faktor keselamatan. Sebagai gantinya, mereka boleh menginap di villa gondang milik Ibang, salah satu teman sekelas Hana. Dengan Mio seperti biasa kuantar hana dengan membawa romi yg masih ngantuk ke rumah Ibang. Ternyata sampai di sana mobil yang sedianya membawa ke lokasi masih belum datang. Akhirnya aku pun menunggu. Gak tega rasanya pulang sebelum melihat hana dan rombongan berangkat.
" Ibu, apa aku boleh ikut ke Gondang ? " tanya Romi.
" Enggak Dek, Mas Rozi sendiri di rumah, kan Mas Rozi mau ulangan, jadi harus belajar" jawabku. Terlihat guratan kecewa diwajahnya.
" Aku sekolah ya hari ini?" Tanyanya lagi.
" iya" sahutku. Taklama berselang romi mulai merenggek minta pulang. Ku katakan padanya sebentar tunggu mobil Mbak Hana datang. Dia mulai sedikit tidak sabar wajahnya telah berubah memerah karena menahan tangis. Kuhibur dia dengan mengatakan kalau besok kita ke Gondang. Tapi tetap dia merenggek minta pulang, untunglah tidak lama mobil datang.
Setelah beres kuajak Romi pulang. Bergegas dia naik ke mio sembari berkata " ibu aku nangis bukan karena emggak boleh ikut ke Gondang, karena ibu lama ngomong2 di sana aku jadi telat sekolah, aku telat baca iqronya bagaimana aku bisa mengaji kalau sering telat. Makanya aku nangis masa aku aja yang datang telat. Padahal aku bangunnya pagi, tapi aku kan enggak salah, aku harus ikut ibu ngantar Mbak Hana dulu setiap pagi."
Deg.....hatiku serasa tertimpa batu gunung, "Masya Allah....maaf ya Omi...ibu enggak bermaksud membuat Omi telat..." pintaku kepadanya dengan sangat menyesal. Kulihat dia mengangguk lemah dengan kepala tetap tertumpu di stag motor. Ya Allah..tanpa sengaja aku telah menzalimi romi. Tanpa kusadari salama ini dia yang banyak berkorban untuk kakaknya. Sering ke sekolah telat karena aku harus mengantar Hana sekolah karena jaraknya jauh, padahal sekolah Romi nanya berjarak 500m dari rumah. Kusangka dia tidak protes dengan itu, ternyata dia telah mengerti arti tanggung jawab akan kewajibannya. Maaf ya nak, ibu akan berusaha berlaku adil untuk Romi, Mas Rozi dan Mbak Hana. Dan ibu sangat menghargai rasa saling pengertian yang telah kalian lakukan. Ibu tanpa sengaja melanggar hak mu untuk sekolah tepat waktu. Maaf ya Romi.
" Ibu, apa aku boleh ikut ke Gondang ? " tanya Romi.
" Enggak Dek, Mas Rozi sendiri di rumah, kan Mas Rozi mau ulangan, jadi harus belajar" jawabku. Terlihat guratan kecewa diwajahnya.
" Aku sekolah ya hari ini?" Tanyanya lagi.
" iya" sahutku. Taklama berselang romi mulai merenggek minta pulang. Ku katakan padanya sebentar tunggu mobil Mbak Hana datang. Dia mulai sedikit tidak sabar wajahnya telah berubah memerah karena menahan tangis. Kuhibur dia dengan mengatakan kalau besok kita ke Gondang. Tapi tetap dia merenggek minta pulang, untunglah tidak lama mobil datang.
Setelah beres kuajak Romi pulang. Bergegas dia naik ke mio sembari berkata " ibu aku nangis bukan karena emggak boleh ikut ke Gondang, karena ibu lama ngomong2 di sana aku jadi telat sekolah, aku telat baca iqronya bagaimana aku bisa mengaji kalau sering telat. Makanya aku nangis masa aku aja yang datang telat. Padahal aku bangunnya pagi, tapi aku kan enggak salah, aku harus ikut ibu ngantar Mbak Hana dulu setiap pagi."
Deg.....hatiku serasa tertimpa batu gunung, "Masya Allah....maaf ya Omi...ibu enggak bermaksud membuat Omi telat..." pintaku kepadanya dengan sangat menyesal. Kulihat dia mengangguk lemah dengan kepala tetap tertumpu di stag motor. Ya Allah..tanpa sengaja aku telah menzalimi romi. Tanpa kusadari salama ini dia yang banyak berkorban untuk kakaknya. Sering ke sekolah telat karena aku harus mengantar Hana sekolah karena jaraknya jauh, padahal sekolah Romi nanya berjarak 500m dari rumah. Kusangka dia tidak protes dengan itu, ternyata dia telah mengerti arti tanggung jawab akan kewajibannya. Maaf ya nak, ibu akan berusaha berlaku adil untuk Romi, Mas Rozi dan Mbak Hana. Dan ibu sangat menghargai rasa saling pengertian yang telah kalian lakukan. Ibu tanpa sengaja melanggar hak mu untuk sekolah tepat waktu. Maaf ya Romi.
Rabu, 06 Agustus 2014
Opa
Hari ini merupakan hari ke 4 Romi bersekolah di TK, tapi seperti kemarin Romi masih nggak mau di tinggal. Rupanya tidak hanya anakku saja yang bersikap seperti itu, sebagian kecil murid masih rewel dan minta ditunggui.
Kebanyakan yang menunggu memang para ibu, karena anak anak cenderung lebih dekat dengan ibu, meski ada juga sih yang di tunggu pengasuh atau ayahnya.
Tapi setelah kuperhatikan ada salah satu siswa yang tidak di tunggu oleh ibu, ayah ataupun pengasuh. Anak itu di tunggui oleh kakeknya yang biasa di panggil Opa. Dia murid kelas kecil, tapi badannya ternyata tidak seperti anak kelas TK kecil lainnya. Tapi untuk urusan kemandirian ternyata sang cucu belum terlatih. Buktinya sekedar melepas dan memakai sepatu Opa lah yang membantu memasang dan melepaskan. Bukannya ucapan terima kasih dari sang cucu malah teriakan bahwa sepatunya terlipat sedikit sehingga terasa sakit di kaki. Tergopoh gopoh opa jongkok memperbaikinya disertai permintaan maaf yang berulang ulang. Dengan telaten si opa mengikuti kemana sang cucu bermain. Kadang di perosotan, ayunan dan yang membuat aku enggak tega melihat jika sang cucu mulai naik turun tangga. Opa dengan tertatih tatih tetap mengikuti dan memegang berusaha menjaga agar sang cucu tidak terjatuh. Belum lagi ulah sang cucu dengan menghamburkan pensil warna dan mainan di halaman dan lagi lagi opa lah yang memungut serta membereskan itu.
Ya Robb....terbayang bagaimana capeknya Opa, di usianya yang senja yang seharusnya beliau beristirahat di rumah dan hanya melakukan aktifitas yang tidak menguras tenaga, beliau malah berjibaku dengan cucu yang amat aktif, berlarian kesana kemari, naik turun tangga dan kadang menggendong jika cucunya tidak berani merosot di perosotan.
Iseng kutanya kemana bunda sang cucu, beliau menjawab sang bunda bekerja, dan tidak ada yang menjaga cucu. O.........begitu, jadi sang bunda bekerja. kenapa tidak mengambil pengasuh saja untuk menjaga sang cucu, seharusnya tenaga opa hanya untuk beribadah bukan untuk mengurusi yang beginian. Pertanyaan ini hanya mampu bergema di relung hatiku. Tidak sampai hati kuutarakan. Yah....mungkin beliaulah yang menawarkan didi untuk menjaga sang cucu. Tapi pantaskah kita menerima uluran tangan beliau yang telah renta untuk momong cucu yang masih di usia aktif.
Ah...Robb.....sayangilah ayah ibuku seperti beliau menyayangiku diwaktu aku kecil, berilah surgaMU untuk beliau berdua.
Kebanyakan yang menunggu memang para ibu, karena anak anak cenderung lebih dekat dengan ibu, meski ada juga sih yang di tunggu pengasuh atau ayahnya.
Tapi setelah kuperhatikan ada salah satu siswa yang tidak di tunggu oleh ibu, ayah ataupun pengasuh. Anak itu di tunggui oleh kakeknya yang biasa di panggil Opa. Dia murid kelas kecil, tapi badannya ternyata tidak seperti anak kelas TK kecil lainnya. Tapi untuk urusan kemandirian ternyata sang cucu belum terlatih. Buktinya sekedar melepas dan memakai sepatu Opa lah yang membantu memasang dan melepaskan. Bukannya ucapan terima kasih dari sang cucu malah teriakan bahwa sepatunya terlipat sedikit sehingga terasa sakit di kaki. Tergopoh gopoh opa jongkok memperbaikinya disertai permintaan maaf yang berulang ulang. Dengan telaten si opa mengikuti kemana sang cucu bermain. Kadang di perosotan, ayunan dan yang membuat aku enggak tega melihat jika sang cucu mulai naik turun tangga. Opa dengan tertatih tatih tetap mengikuti dan memegang berusaha menjaga agar sang cucu tidak terjatuh. Belum lagi ulah sang cucu dengan menghamburkan pensil warna dan mainan di halaman dan lagi lagi opa lah yang memungut serta membereskan itu.
Ya Robb....terbayang bagaimana capeknya Opa, di usianya yang senja yang seharusnya beliau beristirahat di rumah dan hanya melakukan aktifitas yang tidak menguras tenaga, beliau malah berjibaku dengan cucu yang amat aktif, berlarian kesana kemari, naik turun tangga dan kadang menggendong jika cucunya tidak berani merosot di perosotan.
Iseng kutanya kemana bunda sang cucu, beliau menjawab sang bunda bekerja, dan tidak ada yang menjaga cucu. O.........begitu, jadi sang bunda bekerja. kenapa tidak mengambil pengasuh saja untuk menjaga sang cucu, seharusnya tenaga opa hanya untuk beribadah bukan untuk mengurusi yang beginian. Pertanyaan ini hanya mampu bergema di relung hatiku. Tidak sampai hati kuutarakan. Yah....mungkin beliaulah yang menawarkan didi untuk menjaga sang cucu. Tapi pantaskah kita menerima uluran tangan beliau yang telah renta untuk momong cucu yang masih di usia aktif.
Ah...Robb.....sayangilah ayah ibuku seperti beliau menyayangiku diwaktu aku kecil, berilah surgaMU untuk beliau berdua.
Selasa, 05 Agustus 2014
untuk mama
Robb......
Dalam helaan nafasku terdapat rinduku untuknya
Dalam tarikan nafasku ada doa untuknya
Sampaikan rinduku untuknya
Meski hanya kurasa sesaat peluk hangatnya
Tapi...
Itu sangat berarti bagiku
Mama....aku rindu.
Dalam helaan nafasku terdapat rinduku untuknya
Dalam tarikan nafasku ada doa untuknya
Sampaikan rinduku untuknya
Meski hanya kurasa sesaat peluk hangatnya
Tapi...
Itu sangat berarti bagiku
Mama....aku rindu.
Kamis, 17 Juli 2014
SMILE KID
Anak yang tidak bahagia dia juga tidak bisa membahagiakan orang lain. Tercenung, itu reaksi pertamaku saat mendengar kalimat tersebut. Setelah ku kunyah perlahan aku mulai menyadari kebenarannya. Bagaimana seseorang bisa membuat orang lain bahagia jika dia sendiri jarang atau bahkan tidak pernah merasakan bahagia. Bagaimana bisa orang tua memberi anaknya masa kecil yang menyenangkan jika dia tidak pernah merasakan masa kanak-kanak yang manis dan berwarna indah.Marilah mulai saat ini kita beri warna yang indah pada masa kecil anak-anak kita, sehingga kelak mereka bisa memberi warna yang lebih semarak bagi anak-anaknya. Agar senyum indah selalu menghiasi wajah mungil lucu yang tanpa dosa.
Senin, 07 Juli 2014
Romantis
Di tengah semaraknya perselingkuhan akhir-akhir ini, senang rasanya melihat sepasang kakek nenek yang masih bisa bergandengan. kakek dengan sabar membantu nenek naik bemo. Turun bemo pun kakek berlaku sama. Padahal rambut duanya sudah memutih.
Selasa, 01 Juli 2014
maknamu
Ada tapi tiada
Tampak tapi tak bermakna
Jika memang ini jembatanku menuju kampungMU
Akan ku lalui meski goyang dan rapuh
Jika masih ada jalan lain untukku
Beri tandaMU dan ketetapan dalam hatiku
Jangan KAU beri aku pilihan yang membuatku bimbang
Putuskan saja pilihanMU untukku
Iya atau tidak
Manis atau pahit
Tiada beda
selama KAU ridho
Tunggal harapku
UluranMU meneguhkan
Segala bagiku
Semuanya untukMU
Karena
Apa yang ku punya
Bukan untukku
Tampak tapi tak bermakna
Jika memang ini jembatanku menuju kampungMU
Akan ku lalui meski goyang dan rapuh
Jika masih ada jalan lain untukku
Beri tandaMU dan ketetapan dalam hatiku
Jangan KAU beri aku pilihan yang membuatku bimbang
Putuskan saja pilihanMU untukku
Iya atau tidak
Manis atau pahit
Tiada beda
selama KAU ridho
Tunggal harapku
UluranMU meneguhkan
Segala bagiku
Semuanya untukMU
Karena
Apa yang ku punya
Bukan untukku
Minggu, 29 Juni 2014
lukisan
Jadi selama ini sama sekali gak tahu mau di beri warna apa lukisan ini. Trus bagaimana bisa mencoretkan pensil di kertas kalau gak punya tujuan mau melukis apa. Mau di coret seadanya? Mana bisa? Begitu juga dengan hidup ini. Mana bisa kita hidup eggak ada tujuan, tidak tahu mau diberi warna apa. Terlebih jika kita telah menikah. Tanggung jawab lebih besar, kepada istri, anak-anak dan Allah. Biarkan saja hidup mengalir? Apa sih maksudnya? Air mengalir pun punya tujuan lho...dia tidak mengalir tanpa arah, semua mempunyai arah tujuan. Segala yang di bumi dan langit mempunyai tujuan. Trus tujuanmu hidup untuk apa?
Kamis, 19 Juni 2014
suara hati
Robb, hanya kepadaMu kuadukan segala kesahku
Hanya padaMu kusandarkan bahuku
Hanya kepadamu kuletakkan segala beban hatiku
Robb, fahamkan aku atas segala kehendakmu
Buat aku mengerti atas segala tandaMu
Kuatkan aku ya Robb atas segala yang membuatku rapuh
Robb, ku pasrahkan semua hidupku di tanganMu
Robb, pilihkan yang terbaik buatku menurutMU
Robb, lapangkan dada menerima segala keputusanMU
Hanya padaMu kusandarkan bahuku
Hanya kepadamu kuletakkan segala beban hatiku
Robb, fahamkan aku atas segala kehendakmu
Buat aku mengerti atas segala tandaMu
Kuatkan aku ya Robb atas segala yang membuatku rapuh
Robb, ku pasrahkan semua hidupku di tanganMu
Robb, pilihkan yang terbaik buatku menurutMU
Robb, lapangkan dada menerima segala keputusanMU
Kamis, 22 Mei 2014
kangen
Kenapa gak bisa tidur ya, padahal tadi siang juga gak tidur. Badan juga capek, tapi kok kantuk enggak kunjung datang menghampiri. Huft......mana anak2 juga sudah tidur. Seandainya hujan datang pasti kantukku juga ikutan datang. Entah ya...kenapa aku suka banget dengan suara hujan, kayaknya damai gitu. Indah, suaranya yang teratur menentramkan hati, segalau apapun kalau mendengar suara hujan pasti sedikit terbantu. Makanya, aku sengaja membuat jendela kamarku menghadap taman belakang, selain agar pencahayaan dan sirkulasi udara bagus, juga jika hujan, aku bisa langsung memandang langit dan menatap butiran - butiran bening itu jatuh diatas dedaunan dengan leluasa. Bau tanah yang terkena air hujan juga menciptakan sensasi lain di hatiku, aromanya lembut menenangkan. Memang sedari kecil aku sangat senang main hujan, semakin deras hujan semakin girang. Tidak perduli setelah sampai rumah diomeli mama. Kadang aku main hujan sendiri karena sebagian besar orang tua temanku melarang anaknya main hujan. Sebenarnya aku pun juga sering di larang, tapi hihihi...namanya juga cinta ya nekat aja. Gak perduli meski petir menggelegar aku tetap berlari larian di bawah hujan, kadang di temani bola plastik. Emang sih agak aneh ya anak cewek mainannya bola. Mungkin dulu mama pengen anaknya cowok kali ya, tapi yang keluar malah cewek jadinya ya gini hahaha. Bagiku hujan bukan hanya menemaniku di kala senang, jika aku sedih pun dia mampu menghibur dan memelukku dengan erat. Aku ingat ketika di tinggal pergi mama untuk selama lamanya, hujan lah yang menampung segala tangisku, ku berteriak di tengah derasnya guyurannya. Dengan rapi dia bisa menyembunyikan segala rahasiaku. Ku dapat mmenghapus air mataku dengan rapi tanpa meninggalkan jejak. Hmmmm.....mungkin sekarang ini aku kangen dengan hujan.
Langganan:
Postingan (Atom)


