Jumat, 20 Desember 2013

Nasionalisme rasa Durian



 Nasionalisme? Perlukah? Apalagi jika dihadapkan dengan urusan kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mendesak. Kepada siapa sebenarnya rasa itu dipertanyakan keberadannya?

Kepada para rakyat pinggiran yang setiap hari dihadapkan dengan rasa khawatir akankah dapat uang hari ini dari hasil memulung, atau kepada para pedagang kaki lima dan asongan yang harus kucing-kucingan dengan SatPol PP karena dianggap menjadi biang kemacetan, atau kepada para pengemis dan anak gelandangan yang setiap hari terpapar dengan debu yang sekarang sedang menjadi sorotan karena dianggap merusak citra bangsa dengan sikap mereka mental pemalasnya atau kasarnya dengan menjual kemiskinan. Tapi nyatanya mereka memang miskin. Atau kepada para pelacur yang terkoordinir dan mereka taat membayar pajak. Atau kepada para TKI yang dieluk-elukkan sebagai pahlawan devisa yang babak belur di negeri orang demi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga keluarga di tanah air yang katanya tanah surga tapi hanya untuk mengganjal perut saja tidak ada. Atau kepada para atlit timnas yang jatuh bangun berlatih dan ternyata gajinya tertunggak jika mujur setelah pensiun jadi atlit masih bisa diberi kesempatan untuk jualan teh botol di senayan.

Adakah rasa itu di hati para wakil rakyat yang sekarang sedang duduk manis di kursinya yang empuk dan nyaman dengan ruangan ber AC yang membuat ngantuk sehingga terlupa untuk apa sebenarnya mereka berada disana. Adakah rasa itu di hati para pemerintah yang dengan leluasa memerintahkan apa saja asal sesuai jumlahnya. Rasa itu mungkin ada di hati para pengusaha kaya yang bisa “memanfaatkan” sumber daya alam dengan baik, jika terjadi sesuatu yang menenggelamkan beberapa desa itu” bencana alam”. Atau ada di hati para selebritis yang setiap hari memberi informasi dengan menawan kalau beli tas berkualitas itu di negara anu dengan harga yang bisa ditukar dengan buku tiga gudang, dan tempat yang indah itu ada di negara anu dengan hotel berfasilitas dengan tarif ‘hanya” setara gaji setahun sebagian besar buruh. Atau di hati para mahasiswa yang merupakan para intelek muda yang sering berdemo dengan membawa pentungan menyuarakan arti demokrasi, kebebasan untuk apapun tanpa batasan yang jelas.

Mungkin rasa itu seperti durian yang ada dan bisa di rasakan jika di musimnya aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar