Nasionalisme? Perlukah? Apalagi jika
dihadapkan dengan urusan kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mendesak.
Kepada siapa sebenarnya rasa itu dipertanyakan keberadannya?
Kepada para rakyat pinggiran yang
setiap hari dihadapkan dengan rasa khawatir akankah dapat uang hari ini dari
hasil memulung, atau kepada para pedagang kaki lima dan asongan yang harus
kucing-kucingan dengan SatPol PP karena dianggap menjadi biang kemacetan, atau
kepada para pengemis dan anak gelandangan yang setiap hari terpapar dengan debu
yang sekarang sedang menjadi sorotan karena dianggap merusak citra bangsa
dengan sikap mereka mental pemalasnya atau kasarnya dengan menjual kemiskinan.
Tapi nyatanya mereka memang miskin. Atau kepada para pelacur yang terkoordinir
dan mereka taat membayar pajak. Atau kepada para TKI yang dieluk-elukkan
sebagai pahlawan devisa yang babak belur di negeri orang demi untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga keluarga di tanah air yang katanya tanah surga tapi
hanya untuk mengganjal perut saja tidak ada. Atau kepada para atlit timnas yang
jatuh bangun berlatih dan ternyata gajinya tertunggak jika mujur setelah
pensiun jadi atlit masih bisa diberi kesempatan untuk jualan teh botol di
senayan.
Adakah rasa itu di hati para wakil
rakyat yang sekarang sedang duduk manis di kursinya yang empuk dan nyaman
dengan ruangan ber AC yang membuat ngantuk sehingga terlupa untuk apa sebenarnya
mereka berada disana. Adakah rasa itu di hati para pemerintah yang dengan
leluasa memerintahkan apa saja asal sesuai jumlahnya. Rasa itu mungkin ada di
hati para pengusaha kaya yang bisa “memanfaatkan” sumber daya alam dengan baik,
jika terjadi sesuatu yang menenggelamkan beberapa desa itu” bencana alam”. Atau
ada di hati para selebritis yang setiap hari memberi informasi dengan menawan
kalau beli tas berkualitas itu di negara anu dengan harga yang bisa ditukar
dengan buku tiga gudang, dan tempat yang indah itu ada di negara anu dengan
hotel berfasilitas dengan tarif ‘hanya” setara gaji setahun sebagian besar
buruh. Atau di hati para mahasiswa yang merupakan para intelek muda yang sering
berdemo dengan membawa pentungan menyuarakan arti demokrasi, kebebasan untuk
apapun tanpa batasan yang jelas.
Mungkin rasa itu seperti durian yang
ada dan bisa di rasakan jika di musimnya aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar