Rabu, 06 Agustus 2014

Opa

Hari ini merupakan hari ke 4 Romi bersekolah di TK, tapi seperti kemarin Romi masih nggak mau di tinggal. Rupanya tidak hanya anakku saja yang bersikap seperti itu, sebagian kecil murid masih rewel dan minta ditunggui.

Kebanyakan yang menunggu memang para ibu, karena anak anak cenderung lebih dekat dengan ibu, meski ada juga sih yang di tunggu pengasuh atau ayahnya.

Tapi setelah kuperhatikan ada salah satu siswa yang tidak di tunggu oleh ibu, ayah ataupun pengasuh. Anak itu di tunggui oleh kakeknya yang biasa di panggil Opa. Dia murid kelas kecil, tapi badannya ternyata tidak seperti anak kelas TK kecil lainnya. Tapi untuk urusan kemandirian ternyata sang cucu belum terlatih. Buktinya sekedar melepas dan memakai sepatu Opa lah yang membantu memasang dan melepaskan. Bukannya ucapan terima kasih dari sang cucu malah teriakan bahwa sepatunya terlipat sedikit sehingga terasa sakit di kaki. Tergopoh gopoh opa jongkok memperbaikinya disertai permintaan maaf yang berulang ulang. Dengan telaten si opa mengikuti kemana sang cucu bermain. Kadang di perosotan, ayunan dan yang membuat aku enggak tega melihat jika sang cucu mulai naik turun tangga. Opa dengan tertatih tatih tetap mengikuti dan memegang berusaha menjaga agar sang cucu tidak terjatuh. Belum lagi ulah sang cucu dengan menghamburkan pensil warna  dan mainan di halaman dan lagi lagi opa lah yang memungut serta membereskan itu.

Ya Robb....terbayang bagaimana capeknya Opa, di usianya yang senja yang seharusnya beliau beristirahat di rumah dan hanya melakukan aktifitas yang tidak menguras tenaga, beliau malah berjibaku dengan cucu yang amat aktif, berlarian kesana kemari, naik turun tangga dan kadang menggendong jika cucunya tidak berani merosot di perosotan.

Iseng kutanya kemana bunda sang cucu, beliau menjawab sang bunda bekerja, dan tidak ada yang menjaga cucu. O.........begitu, jadi sang bunda bekerja. kenapa tidak mengambil pengasuh saja untuk menjaga sang cucu, seharusnya tenaga opa hanya untuk beribadah bukan untuk mengurusi yang beginian. Pertanyaan ini hanya mampu bergema di relung hatiku. Tidak sampai hati kuutarakan. Yah....mungkin beliaulah yang menawarkan didi untuk menjaga sang cucu. Tapi pantaskah kita menerima uluran tangan beliau yang telah renta untuk momong cucu yang masih di usia aktif.

Ah...Robb.....sayangilah ayah ibuku seperti beliau menyayangiku diwaktu aku kecil, berilah surgaMU untuk beliau berdua.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar